Strategi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dalam Menanggulangi Konflik Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan

Ari Sulistyo

Abstract


Pemanfaatan sumber daya alam sangat rawan dengan konflik karena gesekan antara motif ekonomi (utility) dan motif pelestarian (protection). Potensi konflik tersebut juga terjadi dalam pemanfaatan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark dimana pengembangan utamanya melalui sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam menghadapi potensi konflik pemanfaatan dan pelestarian lingkungan di wilayah Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian ini berada di Kabupaten Gunungkidul yaitu Geosite Gunung Api Purba Nglanggeran, Geosite Gua Pindul, dan Geosite Pantai Siung. Wilayah ini dipilih sebagai representasi dari 2 (dua) kabupaten lainnya yang berada di kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark yaitu Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Pacitan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi partisipatif di mana data dihimpun melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi kerusakan fisik dan nonfisik sebagai dampak dari pemanfaatan geopark di bidang pariwisata. Kerusakan fisik antara lain kerusakan batuan karst, erosi tanah, kerusakan vegetasi, penurunan daya serap air, pencemaran sungai dan laut, dan vandalisme. Sedangkan kerusakan nonfisik meliputi adanya ketimpangan ekonom dan konflik sosial. Sebagai respon atas kerusakan tersebut, Pokdarwis mengambil strategi dan kebijakan antara mengadakan kerja bakti kebersihan lingkungan, membangun wahana wisata dengan bahan ramah lingkungan, memasang papan-papan himbauan menjaga kebersihan lingkungan, dan membatasi jumlah pelaku wisata, mengelola sampah secara terpadu, membangun obyek wisata alternatif, dan melarang investor masuk. Berdasarkan kajian pustaka, strategi-strategi tersebut tergolong sebagai inovasi akar rumput (grassroots innovations). Penelitian ini juga menguatkan teori bahwa partisipasi atau pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu strategi terbaik dalam menyikapi konflik pemanfaatan dan pelestarian lingkungan.

References


(Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi). (2020). Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Pedoman Teknik Pengembangan Geopark Sebagai Destinasi Pariwisata. www.jdih.kemenparekraf.go.id

Amelia, D. F. (2015). Upaya Pemerintah Indonesia Menjadikan Kawasan Gunung Sewu sebagai UNESCO Global Geopark Network (GGN) Tahun 2013-2015. JOM FISIP, 3(2), 1–14.

Amsyari, F. (1977). Prinsip Prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. Ghalia Indonesia.

Baiquni, M., & Rijanta, R. (2007). Konflik pengelolaan lingkungan dan sumberdaya dalam era otonomi dan transisi masyarakat. Bumi Lestari Journal of Environment, 7(1). https://ojs.unud.ac.id/index.php/blje/article/view/2414

Chandra, R. I. (1992). Konflik Dalam Hidup Sehari-hari (P. Kanisius (ed.)).

Ciobanu, C. (2016). Space and Time Perception and the Geopark’s Communities. From Mythical Geography to Heritage Interpretation. International Review of Social Research, 6(2), 98–106. https://doi.org/10.1515/irsr-2016-0013

Čtveráková, I., Fialová, D., Kučera, Z., & Chromý, P. (2016). Barriers in functioning of czech geoparks in the context of different circumstances. Acta Universitatis Carolinae, Geographica, 51(2), 235–246. https://doi.org/10.14712/23361980.2016.19

Halim, S. A., & Ishak, N. A. (2017). Examining community engagement in heritage conservation through geopark experiences from the Asia Pacific region. Journal of Malaysian Studies, 35, 11–38. https://doi.org/10.21315/km2017.35.Supp.1.2.Kajian

Hall, D. R. (2000). Evaluating the Tourism — Environment Relationship: Central and East European Experiences. Environment and Planning B: Planning and Design, 27(3), 411–421. https://doi.org/10.1068/b2661

Han, J., Wu, F., Tian, M., & Li, W. (2018). From Geopark to Sustainable Development: Heritage Conservation and Geotourism Promotion in the Huangshan UNESCO Global Geopark (China). Geoheritage, 10(1), 79–91. https://doi.org/10.1007/s12371-017-0227-2

Haryono, E., Barianto, D. H., & Cahyadi, A. (2017). Hidrogeologi Kawasan Karst Gunungsewu: Panduan Lapangan Fieldtrip PAAI 2017. Pekan Ilmiah Tahunan Ahli Airtanah Indonesia, December 2018, 1–33. https://doi.org/10.31227/osf.io/t5dgp

Hossain, M. (2016). Grassroots innovation: A systematic review of two decades of research. Journal of Cleaner Production, 137(September 2015), 973–981. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2016.07.140

Khairurrahman, M. R. (2021). Efektivitas Pengelolaan Kawasan Karst Gunung Sewu Geopark Kabupaten Gunungkidul [Universitas Gadjah Mada]. http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/202296

Khrisnamurti, Utami, H., & Darmawan, R. (2016). Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Jurnal Kajian, 21(3), 257–273.

Kort, P. M., Greiner, A., Feichtinger, G., Haunschmied, J. L., Novak, A., & Hartl, R. F. (2002). Environmental effects of tourism industry investments: an inter-temporal trade-off. Optimal Control Applications and Methods, 23(1), 1–19. https://doi.org/10.1002/oca.692

Lakitan, B. (2017). Inovasi Akar-Rumput dan Teknologi Tepat Guna sebagai Pengungkit Ekonomi Kerakyatan. Prosiding Semiloka Grassroots Innovation 2016: Peran Inovasi Akar Rumput Dalam Meningkatkan Kapasitas Dan Daya Saing UKM, April 2017, 18–36.

Lim, D. J., & Kwon, K. D. (2020). Policy conflicts and factors affecting conflict resolution in South Korea: Trends from the Korean public policy conflict database (1948-2014). International Journal of Conflict Management, 31(1). https://doi.org/10.1108/IJCMA-03-2019-0057

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2007). Qualitative Data Analysis. Universitas Indonesia.

Moleong, L. J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif , Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moleong, L. J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyadi. (2012). Konflik Sosial Ditinjau Dari Segi Struktur dan Fungsi. In Humaniora (Vol. 14, Issue 3, p. 2).

Parno. (2018). Gunung Sewu: UNESCO Global Geopark. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, 110 (2009).

Penyusun, T. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa.

Prayogo, A., Chusniyah, T., & Tantiani, F. (2021). Kepribadian big five sebagai prediktor perilaku vandalisme pada siswa SMAN 02 Batu. Flourishing Journal, 1(5), 373–382. https://doi.org/10.17977/um070v1i52021p373

Priyanto, S. E. (2016). Dampak Perkembangan Pariwisata Minat Khusus Snorkeling Terhadap Lingkungan: Kasus Destinasi Wisata Karimunjawa. Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah, 10(03), 13–28. https://doi.org/10.47256/kepariwisataan.v10i03.117

Pruitt, D. G., & Rubin, J. Z. (2004). Teori Konflik Sosial. Yayasan Pustaka Pelajar.

Pujani, L. P. K., & Sanjiwani, P. K. (2017). Eksploitasi Goa Pindul sebagai Speleo Tourism di Gunung Kidul, Yogyakarta. Jurnal Analisis Pariwisata, 17(1), 17–23.

Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu.

Sativa, Setiawan, B., Wijono, D., & Adiyanti. (2017). Variasi Seting Fisik Ruang Interaksi Anak Di Kampung Padat Kota Yogyakarta. INERSIA, 13(2), 167–177.

Subarsono, A. (2011). Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi). Pustaka Pelajar.

Vitrianto, P. N. (2022). Pengaruh Pariwisata terhadap Perubahan Ruang Kawasan Geopark (Studi Kasus Geopark Gunungsewu, Kabupaten Gunung Kidul) [Universitas Gadjah Mada]. http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/207332