Strategi Pengembangan Agribisnis Tanaman Biofarmaka Di Kabupaten Ponorogo

Duwi Setyo Rahmawati(1*)
(*) Corresponding Author

Abstract


Tulisan ini bertujuan untuk menggali potensi tanaman biofarmaka yang ada di Kabupaten Ponorogo dan menyusun strategi agribisnis tanaman biofarmaka yang masih belum banyak dikembangkan di Kabupaten Ponorogo. Permasalahan utama dalam agribisnis tanaman biofarmaka adalah produksi dan produktivitas yang rendah, kepemilikan lahan yang sempit, penanganan pasca panen masih tradisional, keterbatasan modal, insfrastruktur terbatas, dan akses pemasaran kurang berkembang. Hasil analisis SWOT pada pengembangan agribisnis tanaman biofarmaka memperoleh Strategi terbaik ialah 1. Mengembangkan hasil pasca panen untuk berbagai macam kebutuhan seperti obat, kosmetika, bahan industri dan makanan minuman. Semakin kesini permintaan kosmetika semakin meningkat. Walaupun datangnya pandemi tanaman biofarmaka mampu merebut posisinya dengan mengalihkan masyarakat dari pengguna obat kimia ke obat herbal 2. Mengembangkan Sumber Daya Alam dan teknologi yang mampu memikat pemerintah untuk turut berpartisipasi dalam budidaya tanaman biofarmaka. Dukungan yang diberikan berupa event minum jamu nasional, antusias masyarakat indonesia dalam mengkonsumsi jamu masih sangat tinggi

Full Text:

References


  1. Herdiani, E. (2012). Potensi Tanaman Obat Indonesia. Badan Pengkajian Dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. http://bppp.kemendag.go.id/media_co ntent/2017/12/Isi_BRIK_Tanaman_O bat.pdf
  2. Pertanian, K. (2016). Potensi Tanaman Obat Indonesia. Badan Pengkajian Dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. http://bppp.kemendag.go.id/media_co ntent/2017/12/Isi_BRIK_Tanaman_O bat.pdf
  3. Pujiasmanto. (2016). Potensi Tanaman Obat Indonesia. Badan Pengkajian Dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. http://bppp.kemendag.go.id/media_content/2017/12/Isi_BRIK_Tanaman_O bat.pdf
  4. Sagitaningrum, R., & Afandi. (2015). Strategi Pengembangan Tanaman Herbal “Assyifa’a” di Kota Palu Sulawesi Tengah. Agrotekbis, 4(4), 521–531.
  5. Sugiyono. (2016). Penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Subtema Kebersamaan Dalam Keberagaman (Penelitian Tindakan Kelas Di Kelas IV Sdn Gentra Masekdas). Institutional Repositories & Scientific Journals.
  6. Suhariyanto. (2021). Kabupaten Ponorogo Dalam Angka 2021.
  7. Sujarweni. (2015). Pengaruh Lingkungan Sosial, Tingkat Pendidikan Dan Tingkat Pendapatan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Kasus Pada WPOP Di Desa Tegalangus). Metode Penelitian, 13.
  8. Tanamanobat.net. (2016). Potensi Tanaman Obat Indonesia. Badan Pengkajian Dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. http://bppp.kemendag.go.id/media_co ntent/2017/12/Isi_BRIK_Tanaman_O bat.pdf
  9. Sagitaningrum, R., & Afandi. (2015). Strategi Pengembangan Tanaman Herbal “Assyifa’a” di Kota Palu Sulawesi Tengah. Agrotekbis, 4(4), 521–531.
  10. Tiara, N. (2017). AGRISTA : Vol . 5 No . 3
  11. September 2017 : 232-244 ISSN : 2302-1713 Tiara Yanri H : Strategi Pengembangan …., 5(3), 232–244.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.