GAYA BAHASA DAN BUDAYA MANTRA WAROK REYOG PONOROGO (Kajian Etnolinguistik)

Alip Sugianto

Abstract


Dalam kesenian reyog Ponorogo, warok merupakan salah satu tokoh sentral.
Warok dianggap orang dhungdeng yang memiliki kesaktian dan kekuatan
linuwih yang bersifat supranatural. Kesaktian warok tidak terlepas dari
penggunaan mantra dan ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
gaya bahasa verbal (mantra) dan non verbal (uborampe) ketika ritual serta
menjelaskan pandangan hidup, pola pikir dan pandangan terhadap dunianya
beserta alasan mengunakan mantra sebagai unsur penting dalam kesenian reyog.
Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif memanfaatkan metode
etnografi dengan analisis etnosaint atau the new ethnography. Berdasarkan
analisis ditemukan sebagai berikut: warok menggunakan mantra sotren,
gebyakan, kyai sampar angin, ajian singo barong, serta mantra wisudawan
warok. Dalam proses ritual warok menggunakan persyaratan berupa bahasa non
verbal seperti pisang ,kembang telon dan parem.
Pandangan hidup warok berupa makrokosmos menjaga hubungan baik dengan
Tuhan, mikrokosmos menjaga hubungan baik dengan alam sekitar, sedangkan
pola pikir warok terhadap reyog dianalogikan sebagai simbol raja singo barong,
dan kyai sampar angin asosiasi dari malaikat mikail. Penggunaan mantra dalam
pagelaran reyog merupakan bagian penting dari ritual karena dianggap mampu
menjadi alternatif solutif.


Keywords


Warok, Mantra, Ritual, Etnolinguistik

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.