UPAYA PENUMBUHAN NILAI BUDI PEKERTI PADA SEKOLAH MUHAMMADIYAH DI KOTA KUPANG

Arifin Arifin

Abstract


Pendidikan budi pekerti adalah upaya untuk membekali peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan selama pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai bekal masa depannya, agar memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan terhadap sesama mahluk. Dengan demikian terbentuklah pribadi seutuhnya yang tercermin pada perilaku berupa ucapan, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, kerja dan hasil karya berdasarkan nilai-nilai agama serta norma dan moral luhur bangsa. Penelitian ini bertujuan: 1) Mendeskripsikan upaya sekolah Muhammadiyah dalam menumbuhkan nilai budi pekerti bagi peserta didik; 2) Mengetahui kendala apa saja yang di hadapi sekolah Muhammadiyah dalam menumbuhkan nilai budi pekerti bagi peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik interaktif model Milles dan Huberman. Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Penanaman nilai budi pekerti di Sekolah Muhammadiyah telah dan sedang dilakukan. Penanaman budi pekerti dilaksanakan melalui kegiatan religius (5S, doa bersama, memulai pelajaran dengan doa, sholat dhuhur berjamaah) dan kegiatan penanaman kedisiplinan melalui pembiasaan, contoh/teladan, penyadaran, dan pengawasan/kontrol. Keseluruhan kegiatan ini dilakukan secara rutin, dengan harapan kegiatan tersebut dapat memunculkan karakter yang baik baik peserta didik di Sekolah Muhammadiyah; 2) Kendala-kendala yang dihadapi dalam penanaman nilai budi pekerti di sekolah Muhammadiyah. Pada dasarnya dalam menanamkan nilai budi pekerti kepada peserta didiknya sekolah Muhammadiyah tidak banyak mengalami kendala. Berdasarkan hasil penelitian ini kendala yang dihadapi adalah sebagai berikut: 1) minimnya dana untuk kegiatan-kegiatan karakter seperti pramuka, pesantren kilat, pengajian rutin, dan pembuatan papanis/seruan kepada stakeholdersekolah; 2) komitmen seluruh unsur sekolah untuk melaksanakan kesepakatan/kebijakan sekolah masih lemah; 3) dan masih ada guru yang belum menahan diri untuk tidak merokok di areal sekolah.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.